KONDISI DAN SISA CADANGAN KARBON DI ATAS PERMUKAAN TANAH PADA HUTAN GAMBUT SEKUNDERBEKAS KEBAKARAN BERULANG
ABSTRAK
Hutan memiliki kemampuan dalam menyerap karbon dari atmosfir. Indonesia termasuk salah satu negara berkembang yang giat memperjuangkan mekanisme perdagangan karbon melalui mekanisme REDD (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation). Hal ini dilakukan setelah adanya hasil COP-13 (Conference of Parties) di Bali. Peraturan Menteri Kehutanan No. 30, tahun 2009, telah memberi kesempatan kepada pengelola hutan untuk berpartisipasi dalam kegiatan REDD. Hutan di Sumatera Selatan pada umumnya berupa hutan alam dan hutan tanaman yang ditanam di tanah mineral maupun di tanah gambut. Emisi hutan gambut terbesar terjadi saat hutan tersebut terbakar. Pemulihan hutan gambut yang terbakar akan memakan waktu yang sangat lama, apalagi bila kebakaran terjadi berulang-ulang. Terjadinya kebakaran berulang-ulang menyebabkan tidak ada kesempatan bagi vegetasi tanaman untuk mengadakan pemulihan. Emisi maupun cadangan karbon yang terjadi pada hutan gambut sekunder di lahan gambut yang terbakar berulang-ulang masih belum banyak diketahui secara detil, khususnya di bagian yang mana yang paling besar mengeluarkan emisi CO2. Dengan demikian perlu dilakukan analisis cadangan karbon pada hutan gambut sekunder yang berulang-kali terbakar. Permasalahan yang terjadi adalah seberapa besar cadangan karbon yang tersimpan pada lahan hutan gambut yang terbakar berulang-ulang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui cadangan karbon di atas permukaan tanah pada hutan gambut yang berulang-kali terbakar. Penelitian ini dilakukan dengan mengukur cadangan karbon di atas permukaan tanah pada lahan gambut setelah terbakar. Dengan mengetahui karbon yang tersimpan, maka potensi emisi yang akan ditimbulkan sekaligus dapat diketahui, apabila hutan tersebut terbakar kembali. Pengukuran karbon dilakukan dengan cara membuat plot-plot penelitian sesuai dengan petunjuk dari SNI tahun 2011 yaitu: plot 20x20 m untuk mengukur karbon pada vegetasi tingkat pohon dan karbon pada
pohon mati dan kayu mati (nekromasa), plot ukuran 5x5 m dan 10x10 m digunakan untuk mengukur potensi pohon tingkat pancang dan tiang, sedangkan plot 2x2 m untuk mengukur karbon pada tumbuhan bawah dan serasah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebakaran yang terjadi pada hutan tanaman di lahan gambut, ternyata tidak semua cadangan karbon habis terbakar, kecuali kebakaran dengan kategori berat. Sisa cadangan berat basah biomassa karbon terbesar di atas permukaan tanah adalah pada pohon mati (0,452 ton/ha) dan yang terendah pada kayu mati (0,222 ton/ha). Rata-rata simpanan karbon pada lahan tersebut 1,296 ton/ha.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain