KONSERVASI TANAH DAN AIR SECARA PARTISIPATIF DENGAN PENDEKATAN MODEL AGROFORESTRI LOKAL1
ABSTRAK
Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui hasil praktek konservasi tanah dan air melalui pendekatan praktek agroforestri lokal dibeberapa wilayah di Nusa. Tenggara. Timur Praktek konservasi tanah dan air yang telah lama dipraktekkan adalah praktek agroforestri dengan memadukan antara tanaman kehutanan, pertanian, dan peternakan. Namun dalam aras praktikal masih sedikit informasi yang diperoleh tentang keberhasilan praktek agroforestri terhadap perbaikan komponen lingkungan seperti perbaikan terhadap sifat fisik dan kimia tanah, produktivitas lahan dan produktivitas tanaman. Hal ini disebabkan tehnologi pengelolaan agroforestri yang dipraktekkan kurang memperhatikan interaksi kondisi lingkungan setempat kebutuhan masyarakat, dan kondisi sosial masyarakat. Studi yang dilakukan di Sumba Timur menunjukkan bahwa praktek konservasi tanah dan air dengan penanaman rumput tertentu mampu memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah pada daerah yang didominasi savana dengan sistem peternakan lepas. Lahan yang ditanami rumput Brachiaria mutica, Panicum maximum Euchlaena mexicana, Setaria spachelata, Panicum maximum, mapu (Imperata cylindrica) dan kahirik (Andropogon pertusus Willd) mampu memperbaiki fisik tanah (porositas dan kerapatan isi tanah) dan kimia tanah (P, K, C organik dan KTK). Praktek agroforestri di desa Bijaepunu kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dengan pengaturan pola tanam tanaman pangan dalam baris, tumpangsari dan campuran diantara tanam gmelina dan rumput raja (king grass) mampu memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah. Hasil biji kacang tanah dan jagung (kg/ha) dibawah tegakan gmelina dengan pola tanam tumpangsari dan baris lebih tinggi dibandingkan hasil kacang tanah dan jagung yang ditanam campuran diluar tegakan gmelina (lahan petani).
Praktek agroforestri di desa Ajaobaki kabupaten TTS menunjukkan lahan
1
Makalah ini disampaikan pada Semiloka “Riset Pengelolaan DAS Menuju
Kebutuhan Terkini” Surakarta, 27-28 Juni 2011. Kerjasama Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi dengan Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai.
penanaman jeruk dengan pola terasering tanaman kaliandra, turi, dan nanas sebagai tanaman penguat teras, dan penggunaan tanaman semak putri malu dan tanaman kacang-kacangan sebagai tanaman penutup tanah mempunyai produktivitas lebih baik yang diindikasikan dengan tingkat ketebalan lapisan olah tanah yang lebih dalam, kandungan bahan organik lebih tinggi, sebaran batuan di permukaan rendah (< 3%), tekstur tanah lempung liat berpasir.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain