KAJIAN KETERSEDIAAN AIR PERMUKAAN PADA TANAMAN KAYUPUTIH1
ABSTRAK
Prioritas utama dalam kegiatan konservasi tanah dan air suatu kawasan adalah penggunaan metode vegetatif, disamping metode mekanis untuk kebutuhan yang sangat mendesak. Dalam penerapan metode vegetatif tersebut ditemui kendala yaitu keluhan masyarakat yang menyatakan bahwa telah terjadi penurunan sumber-sumber air di suatu kawasan yang direboisasi dengan jenis tegakan hutan tanaman tertentu. Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (B2PBPTH) Yogyakarta pada saat ini sedang mengembangkan jenis-jenis prioritas yang menjadi jenis unggulan yaitu tanaman kayuputih di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tujuan pengembangan jenis kayuputih ini untuk mendukung pelaksanaan pembangunan tanaman hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), namun kegiatan yang dilakukan masih terbatas pada aspek perbaikan kualitas benih/ bibit melalui bioteknologi, spesies trial dan provenance trial. Untuk melengkapi kegiatan tersebut perlu kajian tentang aspek ekologisnya. Penelitian ini dilakukan pada Mikro DAS Sub DAS Gubah di Desa Katongan, Kec.Nglipar, Kab.Gunung Kidul. Tujuan kajian adalah mendapatkan informasi karakteristik hidrologis dari tanaman kayuputih. Hasil yang diperoleh : (1). Hasil pengamatan iklim mikro stasiun klimatologi Nglipar adalah sebagai berikut : (a). Pada bulan Januari - Maret : suhu udara rata-rata adalah 24-
38 0 C dengan kelembaban udara 58-82 %; (b). Pada bulan April -
September : suhu udara rata-rata adalah 24-39 0C dengan kelembaban udara 60-82 %; (2) Penutupan lahan pada lokasi mikro DAS tanaman
kayuputih didominasi terubusan baru sehingga rerata diameter batangnya relatif kecil. Dari rerata tinggi pohonnya berkisar antara 142 - 225 cm, hal ini dikarenakan belum dilakukan pemanenan daun. Setelah penanenan daun maka tonggak yang tersisa ketinggiannya hanya berkisar 150 cm saja. Penutupan lahan mikro DAS berkisar antara 30 - 80 % (sedang), sehingga masih terdapat resiko terjadinya erosi tanah yang disebabkan karena pukulan air hujan:(3) Kondisi tanah menunjukkan bahwa rerata pH
1 Makalah ini disampaikan pada Semiloka “Riset Pengelolaan DAS Menuju Kebutuhan Terkini” Surakarta, 27-28 Juni 2011. Kerjasama Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi dengan Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan Daerah Aliran
Sungai.
tanah adalah agak basa, rerata kandungan C organik termasuk kategori tinggi, rerata kandungan bahan organik tanah termasuk kategori tinggi, tekstur tanah adalah lempung berat kecuali pada titik pengambilan sampel tanah kedua pada kedalaman > 40 cm; (4)Kuaitas air yang dinilai dari pH menunjukkan dalam kondisi netral dengan kisaran 7,5 sampai dengan 7,7. Beberapa parameter tertentu (K, NO3, Cl, Na, dan SO4), hasil uji menunjukkan bahwa sampel air dari mikro DAS lebih kecil dari pada di sub DAS Oyo, sedangkan untuk parameter yang lain (kalsium, phospat, dan magnesium) lebih besar dari pada sampel air dari sub DAS Oyo. (5). Hasil pengamatan debit aliran menunjukkan bahwa dari curah hujan rerata tahunan sebesar 1330 mm, menghasilkan debit aliran reratasebesar 0,383 m3/dt atau 635,25 mm (47,70 %), sedangkan sisanya sebesar 694,75 mm (52,30 %) meresap kedalam tanah sebagai cadangan air tanah, koefisien aliran sebesar 0,47, dikategorikan dalam kondisi baik.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain