KONSERVASI DAN REHABILITASI LAHAN GAMBUTUNTUK PENURUNAN EMISI KARBON: APLIKASI UNTUK PROVINSI SUMATERA SELATAN*
ABSTRAK
Karena tingginya tingkat emisi dari lahan gambut, maka konservasi dan rehabilitasi lahan gambut diharapkan banyak berkontribusi dalam penurunan emisi gas rumah kaca. Di Sumatera Selatan (Sumsel), dari sekitar 1,28 juta ha lahan gambut sekitar 0,61 juta ha ditutupi oleh semak belukar dan sekitar 0,17 juta ha berupa rumput-rumputan. Kedua jenis penutupan lahan ini mengemisi CO2 karena terpengaruh drainase gambut dan kebakaran. Emisi di Sumsel dari perubahan penggunaan lahan mineral dan lahan gambut tahun 2006-2011 diperkirakan berjumlah 29,8 juta ton CO2/tahun; 25.5 juta ton CO2 di antaranya berasal dari dekomposisi gambut. Bila keadaan sekarang berlanjut (business as usual, BAU) emisi tahun 2020 diperkirakan berjumlah 30,5 juta ton CO2/tahun. Beberapa skenario (S) mitigasi dapat dikembangkan, antara lain dengan (S1) mengalihkan pengembangan 2000 ha perkebunan ke depan dari hutan gambut ke lahan semak belukar di lahan mineral, (S2) = (S1) + pencegahan konversi semua hutan gambut yang tersisa, dan (S3) = (S2) + rehabilitasi 7500 ha belukar gambut menjadi hutan gambut. Jika berhasil diterapkan secara sempurna S3 diperkirakan dapat menurunkan emisi sebanyak 18% dari emisi pada skenario BAU menjelang tahun 2020. Penerapan setiap skenario mempunyai tingkat kesulitan yang berbeda. Berbagai prakondisi diperlukan sebelum penerapan berbagai skenario, antara lain verifikasi penutupan lahan sekarang, verifikasi status kawasan dan kepemilikan lahan, kesepakatan para pihak tentang skenario dan opsi teknologi serta sumber dan pengalokasian pembiayaan mitigasi.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain