POLA INTENSIFIKASI HUTAN RAKYAT UNGGULAN BERBASIS KAYU DAN NON KAYU
Berkurangnya habibat akibat konfersi lahan untuk berbagai kepentingan telah menimbulkan penurunan produksi hasil hutan. Dampak positif nya adalah terhadap gairah usaha yaitu meningkatnya harga komoditas hasil produksi, tetapi peningkatan harga komoditas itu sendiri telah menimbulkan dampak negatif diantara terhadap kelestarian biodiversitas yang disebabkan oleh kegiatan ekploitasi yang tidak terkendali terutama terhadap komoditas tertentu yang belum dibudidayakan, seperti jenis-jenis pohon penghasil gaharu. Karena itu perlu upaya budidaya dengan pola intensif yang bertujuan untuk a) Mengoptimalkan nilai ekonomi lahan dalam satuan waktu tertentu, b) Memperkenalkan komoditas unggulan yang memiliki nilai ekonomi tinggi, dan c) Mengembangkan dan melestarikan species yang terancam punah. Dengan demikian pola ini secara sekaligus dapat memenuhi beberapa aspek penting, diantaranya aspek keterbatasan lahan, aspek efisiensi waktu, tenaga dan biaya, dan aspek keragaman serta peningkatan produksi. Dengan mempertimbangkan karakteristik, keunggulan, dan persyaratan tumbuh dari species tanaman, maka pola intensifikasi lahan yang relatif ideal adalah pola tanam campuran 3 starata antara tanaman pokok (jatiputih/industri kayu), tanaman sela (gaharu/industri non kayu), dan tanaman pengisi (kapulaga/industri pangan dan farmasi). Paper ini bertujuan untuk memberikan alternatif model intensifikasi pengelolaan hutan rakyat untuk lebih meningkatkan nilai ekonomi lahan. Diharapkan model ini dapat memotivasi para pihak terutama pihak kedua sebagai pemegang modal finansial untuk berpartisipasi dalam pengelolaan hutan rakyat.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain