Nilai ekonomi hutan rakyat untuk penyerapan emisi karbon (economic value of farm forstry as a means of sequestering carbon emission)
In addition to provide financial benefits, farm forestry simultaneously provides a wide range of environmental services such as controlling soil erosion, regulating hydrological cycle, sequestering carbon emission, etc. Since these services are often regarded as public goods that are freely available, the provision of such enviromental services is usually less than socially optimal conditions. The establishment of payment for environmental servise schemes is mainly aimed to provide incentives for producers To provide such enviromental services in sosially optimal conditions. Neverthelles, The implementation of the schemes requires information on economic value of the resources with regards to the provision of environmental services. This research is aimed to estimate economic value of farm forestry as a means of sequestering carbon emission based upon a survey data of 117 farm forestry farmers in tempurejo Village, Wonosobo. Data were generated through a dichotomous choice contigent valuation (DCCVM) survey conducted in july 2010. After eeeeestimating the data using bivariate probit model, it is found that the estimated willingness to accept (WTA) of farm forestry farmers was Rp. 3.039.80/tree/month. The simulation results suggest that the farm forestry projectfor climate change mitigation might not be attractive if te compensation value is less than Rp.2.500,-/tree/month. = Selain memberikan manfaat finansial, hutan rakyat secara simultan juga mampu menyediakan berbagai jasa lingkungan seperti pengendalian erosi tanah, pengaturan siklus hidrologi, penyerapan emisi karbon dan lain0lain. Namun demikian, berbgai jasa lingkungan tersebut sering kali Dianggap sebagai barang publik yang tersedia gratis dan oleh karena itu tingkat ketersediaannya biasanya jauh di bawah tingat optimal dari sudut pandang masyarakat secara keseluruhan. Tujuan utama dikembangkan nya berbagai skim pembayaran jasa lingkungan(PJL) adalah untuk memberikan insentif bagi produsen sedemikian rupa sehingga bersedia menyediakan jasa lingkunan dalam jumlah yang boptimal. Agar skim PJL dapat diterapkan, diperlukan informasi nilai ekonomi suatu sumberdaya dalam kaitannya dengan penyediaan jasa lingkungan tersebut. Penelitian ini dimaksudkan untuk untuk mengestimasi nilai ekonomi hutan rakyat untuk penyerapan emisi karbon dengan menggunakan data survei terhadap 117 petani hutan rakyat di Desa Tempurejo, Kabupaten Wonosobo. Data dikumpulkan melalui survei yang dilakukan pada bulan juli 2010 dengan menggunakan a dichotomous choice contngent valuation method (DCCVM) hasil estimasi data dengan menggunakan bivariate probit model emnunukan bahwa nilai willingness to accept (WTA) petani hutan rakyat adalah sebesar Rp.3.039,80/batang/bulan. Hasil simulasi meyarankan bahwa proyekpembangunan hutan rakyat untuk mitigasi perubahan iklim tida akan menarik jika nilai kompensasi yang diberikan kurang dari Rp.2.500,-/batang/bulan.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain