Pengaruh Waktu dan Nisbah Pelarut pada Ekstraksi Tumbuhan Pewarna Alami Lawsonia inermis
ABSTRAK. Lawsonia inermis atau pacar kuku terkenal karena daunnya yang dapat memberikan warna merah. Tumbuhan ini sering digunakan untuk mewarnai rambut, kuku dan kulit tangan seseorang dengan tujuan untuk memperindah penampilan. Kegunaan lainnya dari daun pacar kuku yaitu untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit, di antaranya kusta, cacar, sakit kepala, panas, demam, penyakit saraf, reumatik, iritasi kulit dan lain sebagainya. Di Indonesia, penyebarannya merata mulai dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara dan Maluku. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui cara ekstraksi yang tepat dan optimum dari tumbuhan Lawsonia inermis dalam pembuatan zat warna alami yang siap pakai. Percobaan ini menggunakan rancangan Percobaan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor (perlakuan). Setiap taraf perlakuan dilakukan dua kali ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah dengan menggunakan dua jenis pelarut organik, yaitu metanol teknis 70% dan air suling. Pada penggunaan pelarut air dengan 2 perlakuan pemanasan, yaitu pemanasan selama 10 menit dan 20 menit. Konsentrasi pelarut terdiri dari 2 level, yaitu 5% dan 10%, sehingga diperoleh 6 kombinasi perlakuan. Parameter pengamatan meliputi rendemen, nilai pH, dan intensitas warna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan jenis pelarut organik, lama pemanasan dan konsentrasi pelarut memberikan pengaruh yang sangat berbeda nyata terhadap intensitas warna yang dihasilkan dengan peluang nyata 0,0001 (< =0,01). Intensitas warna tertinggi diperoleh pada perlakuan penggunaan pelarut akuades, konsentrasi 5% dan lama pemanasan 10 menit yaitu sebesar 31,81, sedangkan intensitas terendah pada penggunaan pelarut metanol dengan konsentrasi 5% yaitu sebesar 4,84.
Kata kunci: Ekstraksi, Melastoma malabathricum, tumbuhan
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain