Kualitas hardboard dua jenis bambu dengan tambahantanin resorsinol formaldehida(Quality of hardboard made from two bamboo species with addition of tanninresorcinol formaldehyde)
Hardboard dapat dibuat dari berbagai macam bahan serat berligno-selulosa. Di Indonesia dewasa ini
ketersediaan bahan baku serat konvensional (khususnya kayu hutan alam tropis) untuk hardboard
semakin terbatas dan langka, sedangkan produksi domestik hardboard belum dapat memenuhi
kebutuhan yang ada. Bahan baku serat alternatif yang potensinya berlimpah dan belum banyak
dimanfaatkan perlu diperkenalkan, diantaranya bambu. Penelitian pemanfaatan bambu sebagai bahan
baku pembuatan hardboard telah dilakukan dengan memanfaatkan dua jenis bambu yaitu bambu tali
(Gigantochloa apus) dan bambu ampel (Bambusa vulgaris). Masing-masing jenis bambu diolah menjadi pulp
dengan proses semi-kimia soda panas terbuka. Hardboard dibuat dengan 5 proporsi campuran pulp
bambu tali + bambu ampel yaitu 100%+0%, 75%+25%, 50%+50%, 25%+75%, dan 0%+100%. Tiap
proporsi ditambahkan perekat tanin-resorsinol-formaldehida (TRF) sebesar 0%, 6% and 8% dari berat
kering pulp. Lembaran hardboard dibentuk dengan cara basah lalu diuji sifat fisis dan mekanisnya. Hasil penelitian menunjukkan penambahan TRF hingga 8% meningkatkan sifat fisis dan mekanis hardboard.
Hardboard dari serat pulp bambu ampel 100% memiliki kualitas tertinggi karena sifatnya banyak
memenuhi persyaratan JIS dan ISO untuk kerapatan, modulus elastisitas lentur (MOE), modulus patah
(MOR) dan keteguhan rekat internal (IB). Sementara itu, hardboard dari serat bambu tali 100% memiliki
kualitas terendah. Performa hardboard dari campuran pulp bambu tali + bambu ampel pada proporsi
50%+50% dan 25%+75% memiliki tingkatan kualitas pada urutan kedua dan ketiga. Papan serat bambu
tali yang berkualitas rendah diharapkan dapat diperbaiki melalui penambahan perekat TRF.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain