Potensi Simpanan Karbon Hutan Tanaman Jati (Tectona Grandis) Studi Kasus Di Kabupaten Kupang Dan Belu Provinsi Nusa Tenggara Timur (Carbon Sink Potency of Tectona grandis Plantation, a Case Study at Belu & Kupang Regency, East Nusa Tenggara Province)
Land used for plantation forest is an activity which could increase carbon sequestration. In NTT province, can be found plantation forest of Teak (Tectona grandis), Ampupu (Eucalyptus urophylla) and mahoni (Swietenia macrophylla) spread on many place, in which the carbon stock potentials have not been identified yet. This research was aimed to achieve carbon stock data for teak species in mineral land plantation forest with extremely dry climate region through allometric model for improving forestry green house gases sequestration factor of two regencies in the Province. The result shows that highest carbon stock of teak forest in Kupang Regency refer to Ketterings allometric is 148,48 ton/ha, and referring to Pérez, L.D. & Kanninen allometric is 145,32 ton/ha, which occured in class III age. The lowest carbon stock refers to Ketterings allometric is 106,59 ton/ha, to Pérez, L.D. & Kanninen allometric is 107,04 ton/ha, It's occurred in age class V. The highest carbon stock of teak forest in Belu Regency refers to Ketterings allometric is 205,41 ton/ha, and refers to Pérez, L.D. & Kanninen allometric is 203,43 ton/ha, which occured in age class VIII. The lowest carbon stock refers to Ketterings allometric is 63,65 ton/ha, to Pérez, L.D. & Kanninen allometric is 69,29 ton/ha, It's occurred in age class IV. Both, Ketterings and Pérez, L.D. & Kanninen allometric gives the near same results. The trend of Carbon sink among age class of teak forest area in Kupang regency could be estimated and drawn by a very low slope line, and just the same in every class age wether refers to Ketterinsg or Pérez, L.D. & Kanninen allometric. The trend of Carbon sink among age class of teak forest area in Belu regency shows a rather high slope and upraising line gradually, in line with upraising of age class. = Pemanfaatan lahan menjadi suatu hutan tanaman merupakan salah satu kegiatan yang dapat meningkatkan simpanan/serapan karbon. Di Propinsi NTT banyak dijumpai hutan tanaman jenis jati (Tectona grandis), ampupu (Eucalyptus urophylla), dan mahoni (Swietenia macrophylla) dimana potensi stok karbonnya belum terdeteksi. Penelitian ini bertujuan menghasilkan data stok karbon untuk jenis Jati (Tectona grandis) pada hutan tanaman tanah mineral pada daerah beriklim ekstrim kering melalui model allometrik untuk perbaikan faktor emisi/serapan GRK Kehutanan di 2 (dua) kabupaten di Prop. NTT. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa stok karbon tertinggi pada kawasan hutan jati (Tectona grandis) di Kabupaten Kupang menurut allometrik Ketterings sebesar 148,48 ton/ha dan menurut Pérez, L.D. & Kanninen sebesar 145,32 ton/ha yang terletak pada kelas umur III. Stok karbon terendah pada kawasan hutan jati (Tectona grandis) di Kabupaten Kupang menurut allometrik Ketterings sebesar 106,59 ton/ha dan menurut Pérez, L.D. & Kanninen sebesar 107,04 ton/ha yang terletak pada kelas umur V. Stok karbon tertinggi pada kawasan hutan jati (Tectona grandis) di Kabupaten Belu menurut allometrik Ketterings sebesar 205,41 ton/ha dan menurut Pérez, L.D. & Kanninen sebesar 203,43 ton/ha yang terletak pada kelas umur VIII. Stok karbon terendah pada kawasan hutan jati (Tectona grandis) di Kabupaten Belu menurut allometrik Ketterings sebesar 63,65 ton/ha dan menurut Pérez, L.D. & Kanninen sebesar 69,29 ton/ha yang terletak pada kelas umur IV. Stok karbon menurut allometrik Kettering dan menurut Pérez, L.D. & Kanninen sebesar menunjukkan hasil yang hampir sama. Trend simpanan karbon antar kelas umur pada kawasan hutan jati di Kab. Kupang menunjukan grafik yang mendatar atau hampir sama pada setiap kelas umur. Trend simpanan karbon antar kelas umur pada kawasan hutan jati (Tectona grandis) di Kab. Belu menunjukkan trend naik seiring naiknya kelas umur.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain