Text
Silvikultur Hutan Tanaman Penghasil Kayu Pertukangan
Percepatan pembangunan hutan tanaman, baik untuk Hutan Tanaman Industri (HTI), Hutan Tanaman Rakyat (HTR) maupun Hutan Rakyat (HR) dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku kayu. Informasi ilmiah tentang persyaratan tumbuh, teknik silvikultur untuk meningkatkan kualitas maupun kuantitas serta nilai ekonomi dari hutan tanaman perlu diketahui. Hal ini terkait dengan peruntukan lahan untuk hutan tanaman yang pada umumnya kurang subur dan pemilihan jenis pohon serta penerapan teknik silvikultur yang tidak tepat sehingga berdampak pada rendahnya produktivitas kayu. Dengan mempertimbangkan hasil pertemuan ITTO 2002 bahwa negara-negara di wilayah Asia Pasifik perlu mengembangkan jenis pohon andalan setempat, maka agar pengembangan dapat mengatasi pemasalahan tersebut di atas, perlu dilakukan penelitian tentang persyaratan tumbuh dan teknik silvikultur setiap jenis (pembibitan, penanaman, pemeliharaan) serta nilai ekonomi dari pembangunan hutan tanaman kayu pertukangan. Jenis-jenis kayu pertukangan, berdasarkan prioritas jenis andalan setempat (JAS) diantaranya pulai (Alstonia scholaris dan A. angustiloba), tembesu (Fragrarea fragrans), jelutung darat (Dyera costulata), ulin (Eusideroxylon zwageri), sungkai (Peronema canescens), meranti merah (Shorea leprosula, S. johorensis, S. ovalis), tengkawang (S. stenoptera dan S. pinanga), sengon (Paraserianthes falcataria), dan mahoni Afrika (Khaya antotheca) telah diteliti dari aspek-aspek persyaratan tumbuh dan teknik silvikultur (pembibitan, penanaman dan pemeliharaan) serta analisa ekonomi hutan tanaman TPTII/SILIN.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain