Sifat pelengkungan kayu tusam (Pinus merkusii Jungh et de Vries) dengan dua macam perlakuan awal
Penelitian teknik pelengkungan kayu di Indonesia masih terbatas jumlahnya. Sebaliknya intensitas penggunaan kayu lengkung semakin meningkat, terutama oleh industri mebel. Pembuatan lengkungan kayu selama ini biasanya dibentuk dengan cara digergaji dan diserut, sehingga terjadi limbah yang cukup tinggi, kekuatan kayu dan keindahan orientasi serat kayu menjadi menurun. Penelitian pelengkungan kayu telah dilakukan pda kayu tusam disadap dan tidak disadap dengan praperlakuan perebusan, perendaman larutan urea 5 persen dan tanpa praperlakuan sebagai kontrol pada radius 80 cm, 56 cm, 45 cm, 25 cm dan 15 cm. Penilaian hasil pelengkungan menggunakan skala ordinal mulai dari 1 sampai 5, masing-masing untuk radius terbesar sampai terkecil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil pelengkungan terbaik pada contoh uji dengan praperlakuan perebusan, kemudian diikuti yang di rendam larutan urea dan kontrol, masing-masing dengan nilai rata-rata 2,65, 2,28 dan 1,58. Titik kritis terjadi pada radius 15 cm untuk yang diberi praperlakuan perebusan, dan radius 25 cm untuk yang direndam dalam larutan urea dan kontrol. Radiius pelengkungan berpengaruh sangat nyata terhadap hasil pelengkungan, sedangkan penyadapan dan arah serat kayu tidak berpengaruh nyata. Perubahan akhir dari radius hasil pelengkungan berkisar antara 1,93 persen - 4,13 persen. Ada kecenderungan makin lama waktu pemanasan, semakin rendah perubahan radius hasil pelengkungan.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain