Kajian ketersediaan kayu bakar pada pengrajin gula merah
Survey produksi gula merah yang menggunakan kayu bakar untuk pemasaknya telah dilakukan di Jasinga Jawa Barat, Gombong Jawa Tengah dan Karangasem Bali. Untuk mengetahui potensi kayu bakar yang ada di lahan masyarakat dilakukan pengumpulan data dengan metode petak ukur model 'Cluster'. Jenis daaata yang dikumpulkan meliputi limbah pohon yang jatuh secara alami, dan volume tegakan berikut permudaan sebagai sumber cadangan kayu bakar yang bisa digunakan kapan saja diperlukan. Data lainnya yang dikumpulkan adalah konsumsi kayu bakar, efisiensi tungku, produksi gula merah, semuanya diperoleh melalui pengamatan percobaan di lapangan. Hasssil penelitian menunjukkan bahwa, persentase ketersediaan kayu bakar pada hutan rakyat yang berasal dari jatuhan limbah pohon secara alami berupa ranting/dahan yang ada di bawah pohon daaan ketersediaan kayu bakar dari bagian kayu yang berada di atas batang bebas cabang dari tegakan pada masing-masing lokasi survey adalah 0,2 persen/ha dan 0,61 persen/ha (Karangasem), 0,02 persen/ha dan 0,63 persen/ha (Gombong) dan 4,78 persen/ha dan 1,17 persen/ha terhadap kebutuhan (Jasinga). Berdasarkan luasannya, Karangasem dan Jasinga menunjukkan ketersediaan cukup tetapi di Gombong mengalami kerawanan kayu bakar karena hanya tersedia sekitar 70 persen. Tingginya kebutuhan kayu bakar ialah karena jumlah pengrajin gula merah di Gombong sangat banyak mencapai 7160 pengrajin, sedang di Karangasem dan Jasinga jumlahnya sedikit masing-masing 550 dan 65 pengrajin. Konsumsi kayu bakar/energi untuk produksi gula merah yang paling tinggi ialah di Jasinga (219,33 GJ/m kubik) kemudian di Gombong (198 GJ/m kubik) dan yang paling rendah di Karangasem (144,44 GJ/m kubik). Tingginya konsumsi kayu bakar di Jasinga terjadi karena tungku yang digunakan efisiensinya paling rendah yaitu 15,07 persen, sedang di Gombong 18,62 persen dan Karangasem 30,12 persen. Konsumsi kayu bakar per tahun per keluarga pengrajin di Karangasem 2100 kg, di Gombong 3924 kg dan di Jasinga 3456 kg. Rendemen tertinggi (55,56 persen) diperoleh pada gula merah berasal dari nira aren dan terendah (8,77 persen) pada gula merah dari nira kelapa. Mengenai kualitasnya, berdasarkan hasil anlisis kimia meliputi kadar karbohidrat, kadar air, abu, kandungan P, Ca, Fe dan nilai kalor, hasil terbaik terdapat pada gula merah yang dibuat daaari nira lontar, kemudian kelapa dan yang terendah dari aren. Untuk memenuhi kebutuhan kayu bakar berkesinambungan, dilakukan melalui penanaman jenis kayu bakar yang memiliki energi tinggi dan daur pendek (4 tahun) misalnya kaliandra, lamtoro dan sengon. Untuk mencukupi kebutuhan itu, maka areal hutan tanaman jenis lamtoro yang diperlukan paling kecil yaitu 178 ha di Karangasem, 4494 ha di Gombong dan 37 ha di Jasinga.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain