Pemborosan kayu dalam pengelolaan hutan rawa seerta alternatif pemecahan masalahnya
Pembuatan dan pemeliharaan jalan rel hingga kini menjadi bagian dari sistem pengeluaran kayu hasil tebangan di hutan rawa. Namun demikian , kedua kegiatan ini menyebabkan terjadinya pemborosan kayu cukup besaar. Untuk pembuatan jalan rel diperlukan kayu 200 - 300 m kubik/km, sedang pada krgiatan penyiapan jalan ongkak dan pembuatan beto (TPn) mencapai 1081,6 m kubik/km persegi atau 10,816 m kubik/ha. Kebutuhan tersebut menjadi berlipat kali bila penggenangan air berlangsung lama. Apabila pembuatan jalan rel diperoleh dari rata-rata 0,09 m kubik/pohon sedangkan untuk jalan ongkak berasal dari tiang dan pancang dengan masing-masing volume 0,0199/batang dan 0,0037 m Kubik/batang, maka tegakan yang diperlukan adalah sekitar tingkat pohon 28 batang/ha, tingkat 312 batang/ha dan tingkat pancang 1221 batang/ha. Sehubungan dengan itu, selayaknya perlu secepatnya diantisipasi, karena pemborosan kayu dari pohon-pohon yang dijadikan bantalan untuk pembuatan jalan maupun pemeliharaan jalan rel serta pembuatan jalan ongkak harus diminimalkan. Selain itu adalah tidak mustahil bahwa kayu yang digunakan sebagai bantalan baik untuk konstruksi jalan rel atau pemeliharaannya serta ditambah dengan pembuatan jalan ongkak, akan menjadi kayu komersil yang potensial apabila dapat dibiarkan tumbuh hingga berdiameter besar.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain