Pertumbuhan Meranti pada Program Rehabilitasi Lahan Alang-alang (Imperata cylindrica Beauv) dengan Sistem Tumpangsari
Tulisan ini melaporkan pengaruh kombinasi penanaman dengan sistem agroforestry untuk pengembangan Shorea balangeran (Korth.) Burck dan Shorea leprosula Miq. (meranti merah) pada rehabilitasi lahan alang-lang dengan nanas dan tanaman buah-buahan, dengan pembuatan demplot pada area rehabilitasi Samboja Lestari, Kalimantan Timur. Tujuan daripada demplot ini untuk memotivasi penduduk lokal dalam menciptakan lahan yang tidak produktif menjadi lahan produktif, untuk pembangunan hutan yang dapat diterima oleh masyarakat. Sebagai salah satu aktivitas untuk mempromosikan jenis lokal pada lahan yang tidak produktif telah dilakukan pembuatan demplot. Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan sistem agroforestry dengan menggunakan nenas dan tanaman buah-buahan memberikan pertumbuhan meranti rawa (S. balangeran) lebih cepat di luar habitatnya. Hal ini ditunjukkan dengan persentase (persen) kematian sebesar 1 persen setelah berumur satu tahun ditanam dengan pertumbuhan diameter, tinggi, dan jumlah daun masing-masing 3 cm, 176 cm, dan 372 lembar daun. Jadi jelas, bahwa jenis lokal (S. balangeran) dapat dikembangkan untuk lahan yang tidak produktif melalui sistem agroforestry dengan nenas dan tanaman buah-buahan. Demplot ini dapat dijadikan model untuk masyarakat dalam meningkatkan lahan yang tidak produktif.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain