Text
Adaptasi Petani Trans,igran Di Lahan Gambut Terdegradasi Tanjung Beringin, Ogan Komering Ilir
Pengembangan wilayah transmigrasi telah menjadikan lahan gambut sebagai salah satu target pilihan. Petani transmigran pada umumnya belum pernah berinteraksi dengan lahan gambut. Ini menjadi tantangan bagi para transmigran untuk beradaptasi dengan kondisi lahan yang baru mereka kenal. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui pola adaptasi transmigran dalam memanfaatkan lahan gambut, sebagai salah satu kapital penghidupan mereka. Penelitian mengambil kasus Desa Tanjung Beringin, Kabupaten OKI Sumatera Selatan. Studi ini menggunakan metode observasi lapang, diskusi kelompok dan wawancara mendalam kepada informan kunci. Petani transmigran mengimplementasikan cara bertani hortikultura seperti di Jawa pada lahan gambut. Namun hasil panen hanya mampu memenuhi kebutuhan subsisten. Upaya memperbaiki hasil usahatani kemudian dilakukan dengan menyesuaikan pilihan komoditas dengan keadaan musim. Selain itu, para transmigran coba mengadopsi pertanian padi sonor, sebuah praktik bertani padi yang telah menjadi tradisi warga asli di OKI, namun hasilnya fluktuatif. Komoditas kelapa sawit yang muncul pada tahun 2009, memberikan harapan penghidupan lebih baik bagi masyarakat. Mereka mengembangkan pola tanaman campuran antara sawit dengan tanaman hortikultura, seperti cabai, kacang panjang, terong dan pare. Masyarakat transmigran masih mencari pola-pola penggunaan lahan gambut optimal untuk peningkatan produktifitasnya. Pengelolaan Sumberdaya air dari lanskap gambut Tanjung Beringin dan perbaikan teknik pengelolaan lahan rawa gambut serta masalah pasar komoditas pertanian semusim menjadi tantangan dalam adaptasi transmigran di lahan gambut. Peningkatan kapasitas masyarakat transmigran dalam budidaya pertanian ramah lingkungan di lahan gambut dan aspek pemasaran komoditas menjadi hal penting dalam adaptasi masyarakat dengan lahan gambut.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain