Text
Mengenali Karakteristik Hidrologi Lahan Gambut
Indonesia memiliki lebih dari 15 juta ha lahan gambut, atau setara dengan 12% lebih dari keseluruhan luas hutannya. Lahan gambut di Indonesia tersebar di pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Ekosistem rawa gambut merupakan ekosistem yang khas. Lahan rawa gambut memiliki peranan yang sangat penting baik ditinjau dari segi ekonomi maupun ekologi. Dalam dua dekade terakhir, kawasan lahan gambut telah banyak dikeringkan dan diubah fungsinya menjadi peruntukan lain. Kerusakan ekologi lahan gambut di Indonesia secara umum telah disebabkan dua kegiatan utama yaitudrainase terbuka dan kebakaran lahan. Pada lahan gambut yang terdrainase fluktuasi muka air tanah di lahan gambut saat musim penghujan dan musim kemarau menjadi cukup besar. Muka air tanah di lahan gambut menjadi semakin dalam sehingga lahan gambut menjadi semakin kering, sehingga sangat rentan mengalami kebakaran. Terlebih lagi dengan kebiasaan sebagian masyarakat dalam membuka lahan dengan cara membakar semakin memicu terjadinya kebakaran lahan gambut. Mengacu pada permasalahan di atas, perlu dipelajari karakteristik hidrologi lahan gambut terdegradasi dan model pengelolaan tata air di lahan gambut untuk mengurangi resiko terjadinya kebakaran lahan. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui beberapa perlakuan perbedaan tinggi muka air tanah pada lahan gambut terdegradasi untuk menghindari bahaya kebakaran lahan. Metode yang digunakan adalah studi literatur dari hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan. Berdasarkan studi beberapa literatur diperoleh hal penting yang dapat dilakukan yaitu melakukan pembasahan kembali lahan gambut yang telah kering, optimalisasi sekat kanal yang telah ada dan membuat sekat kanal jika diperlukan, menjaga kawasan gambut sebagai reservoir air tawar
| 934 | PROSS | Perpustakaan "R.I. Ardi Koesoema" | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain