Text
Prosiding Seminar Nasional: Merawat asa restorasi gambut, pencegahan kebakaran dan peningkatan kesejahteraan masyarakat
Terentang adalah pohon lokal hutan rawa gambut yang potensial untuk dijadikan sebagai kandidat yang akan ditanam pada fase awal restorasi gambut. Pohon ini pun mempunyai peluang untuk ditanam di HTI-pulp. Namun, pengetahuan mengenai sifat pertumbuhan dan teknik silvikultur jenis terentang masih terbatas, termasuk pada aspek pemupukan. Penelitian dengan tujuan untuk mengetahui pertumbuhan dua jenis terentang dan responnya terhadap pemupukan NPK dilakukan pada lahan gambut di Pelalawan, Riau. Dua jenis terentang yakni T1= Campnosperma auriculata dan T2 = C. coriaceum ditanam pada jarak tanam 2 m x 3 m sebanyak 7 blok penanaman. Kemudian, 3 blok penanaman pada masing - masing jenis diberi pupuk susulan berupa NPK (15:15:15) secara bertahap dengan dosis 50 g/tanaman pada umur 3 dan 6 bulan serta 100g/tanaman pada umur 12 bulan. Hasil penelitian sampai umur 2 tahun menunjukkan bahwa pertumbuhan T2 (persen hidup = 64 ± 15,4%, tinggi = 213,2 ± 27,7 cm dan diameter pangkal = 5,73 ± 0,8 cm) secara nyata (p < 0,05) lebih baik dibandingkan T1 (persen hidup = 54 ± 3,8%, tinggi = 127,5 ± 16,7 cm dan diameter pangkal = 4,5 ± 0,5 cm). Selanjutnya, pupuk NPK yang diujikan tidak mempengaruhi pertumbuhan kedua jenis terentang. Hasil ini mengindikasikan bahwa jenis terentang Campnosperma coriaceum lebih direkomendasikan dalam kegiatan restorasi gambut. Selanjutnya, jika tujuan hanya untuk rehabilitasi maka pemberian pupuk NPK tidak diperlukan dalam penanaman terentang, tetapi jika tujuannya adalah produksi (HTI-pulp) maka diperlukan kajian mengenai kemungkinan penggunaan jenis dan dosis pupuk yang berbeda dengan yang diteliti.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain