Text
Kapulaga, ratu rempah pembawa berkah: potensi prospektif di era pandemi covid 19
Buku ini menyajikan berbagai informasi mengenai kapulaga yang berpotensi dikembangkan di areal perhutanan sosial dalam upaya meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar hutan. Infomasi kapulaga dalam buku ini diperoleh dari hasil kajian referensi maupun telaah hasil penelitian mulai dari pengenalan jenis dan pemanfaatannya, persyaratan lingkungan dan tempat tumbuh, teknik budidaya, pemanenan, pasca panen dan pemasaran, analisis usaha, serta prospek pengembangannya.
Kapulaga/Amomum cardamomum merupakan tumbuhan endemik Indonesia dan tergolong rempah paling mahal ketiga di dunia setelah saffron dan vanila. Dalam memulai usaha budidaya kapulaga, perlu mengenal aspek-aspek penting yang akan mempengaruhi kualitas hasil tanamannya. Dalam perdagangan internasional dikenal 3 jenis: Green cardomum, Black cardomum dan Madagaskar cardamom. Kandungan senyawa kimia: monoterpene, sesquiterpene, monoterpenole, sesquiterpenole, aldehyde, ketone, phenole, ester, dan oxide. Keunggulan: harga jual tinggi, mudah dibudidayakan dan cepat menghasilkan, pemasaran mudah, mempunyai banyak manfaat, sekali tanam panen berkali-kali, dan mempunyai nilai lingkungan tinggi. Kapulaga tumbuh baik pada daerah curah hujan rata-rata 2.500-4.000 mm per tahun, suhu 20-30 °C, intensitas sinar matahari 30-70%, menghendaki naungan dan cocok dikembangkan secara agroforestri. Jenis pohon penaung: manggis, manglid, sengon, bambu tali, pinus, dan campuran. Teknik budidaya: A) Penyediaan bibit; B) Persiapan lahan; C) Penentuan jarak tanam; D) Pembuatan lubang tanam; E) Pemberian pupuk dasar; F) Penanamn; G) Pemeliharaan; H) Perlindungan hama dan penyakit: kutu, ulat pemakan daun, kumbang pemakan daun, penggerek batang, penggerek buah, penyakit mozaik, busuk daun, dan busuk akar. Produktivitas buah kapulaga bervariasi disebabkan karena faktor kesuburan tanah, ketersediaan air serta tingkat intensitas pemeliharaannya. Produktivitas kapulaga di Kabupaten Ciamis 1,76-2,52 ton per hektar/tahun sedangkan di Kabupaten Wonosobo lebih tinggi sebanyak 2,8-3 ton buah kapulaga basah per tahun disebabkan karena daerah Wonosobo memiliki intensitas curah hujan lebih tinggi dan kondisi tanah lebih subur. Waktu dan teknik pemanenan maupun perlakuan pasca panen akan berpengaruh terhadap kualitas buah kapulaga. Kementan telah mengeluarkan Peraturan Menteri Pertanian No.73/Permentan/OT.140/7/2013 tentang Pedoman Panen, Pascapanen, dan Pengelolaan Pascapanen Holtikultura yang Baik. Kualitas kapulaga yang direkomendasikan sesuai keinginan pasar: tingkat kekeringan 10-14%, kemurnian terjaga (bebas dari kotoran, kerikil, dan sampah) dan berwarna putih. Berdasarkan hasil analisa usaha, agroforestri sengon kapulaga layak diusahakan.
Kata kunci: Kapulaga, rempah, Covid-19, budidaya
| 21211018157 | 630*892.52 ADI k | Perpustakaan "R.I. Ardi Koesoema" (BUK-8) | Tersedia |
| 21211018158 | 630*892.52 ADI k | Perpustakaan "R.I. Ardi Koesoema" (BUK-8) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain