Text
Peningkatan Peran Hutan Melalui Sinergi Fungsi Hutan sebagai Pengatur Tata Air Daerah Aliran Sungai dan Penyerap CO2
Abstrak: Sebagian peneliti berpendapat bahwa penurunan hasil air di musim kemarau pada DAS yang direhabilitasi dengan tanaman tahunan disebabkan oleh kondisi tanah yang sudah terdegradasi. Tanah yang sudah rusak dan memadat menyebabkan peningkatan limpasan permukaan sehingga jumlah air infiltrasi dan perkolasi kurang jika dibandingkan dengan air yang dievapotranspirasikan yang menyebabkan penurunan hasil air. Fungsi hutan sebagai pengatur tata air DAS dapat dilihat dari fungsinya dalam pengendalian puncak debit, penurunan Koefisien Regim Aliran (KRA), pengendalian erosi-sedimentasi, peningkatan kelembapan tanah sekaligus cadangan air tanah, dan secara global sebagai pemasok kelembapan atmosfer. Hal yang harus diperhatikan dalam Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) adalah jumlah air untuk evapotranspirasi diupayakan lebih sedikit dari air yang masuk ke dalam tanah dalam bentuk perkolasi. Upaya membangun sinergi untuk mewujudkan fungsi hutan sebgai pengatur tata air dan penyerap CO2 antara lain melalui beberapa cara: 1) kesesuaian jenis antara persyaratan tumbuh tanaman dengan kondisi biofisik lahan; 2) proporsi luas hutan alam terhadap hutan tanaman. Hutan alam mengonsumsi kurang 6,8% air pada setiap musim pertumbuhan tetapi menambat karbon 1,1% lebih banyak dibandingkan dengan hutan tanaman; 3) penanaman campuran beberapa jenis agar dapat menciptakan stratifikasi tajuk; 4) jarak tanam; 5) penerapan teknik konservasi tanah dan air; dan 6) strategi pengelolaan hutan tanaman.
Kata kunci: peran hutan, sinergi, tata air, daerah aliran sungai (DAS), siklus air, konservasi tanah, konservasi air
| 21231018029 | (042.5)630*116.64 TYA p | Perpustakaan "R.I. Ardi Koesoema" (Ref-3) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain