Text
Teknologi Pemuliaan Sengon untuk Meningkatkan Ketahanan Penyakit Karat Tumor Guna Mendorong Perkembangan Industri Kayu di Indonesia
Abstrak: Pengendalian karat tumor pada sengon dilakukan melalui berbagai cara: 1) Mekanik/tradisional: a) pruning, dilakukan dengan memotong bagian pucuk atau ranting yang terserang penyakit kemudian menimbun gall yang menjadi sumber spora jamur ke dalam tanah agar spora tidak mudah menyebar; b) thining/penjarangan, menebang tanaman yang terserang untuk mengurangi penularan dan meningkatkan intensitas cahaya yang masuk. Pengendalian mekanik hanya dapat menurunkan luas serangan sebanyak 25%; 2) Kimia: menggunakan fungisida sistemik hexaconazol dengan teknik priming dan iradiasi dosis 5-60 Gy yang mampu menekan infeksi jamur hingga 50%. Efek sampingnya dapat menimbulkan pencemaran lingkungan, merusak ekosistem alami, dan biaya mahal; dan 3) Penggunaan agen hayati dan genetik: ekstrak daun papaya, daun mimba, daun sirsak, dan mikroba antagonis. Dinilai kurang efektif karena memerlukan biaya mahal. Pengendalian genetik melalui teknologi pemuliaan dengan cara seleksi tanaman tahan terhadap karat tumor lebih efektif dan efisien dibanding yang lainnya, tidak berdampak buruk bagi lingkungan dan memberikan dampak positif dalam jangka panjang. Teknik pemulian atau seleksi genetik untuk meningkatkan ketahanan terhadap penyakit dilakukan melalui tahapan identifikasi sumber penyakit, koleksi materi genetik, uji ketahanan di persemaian dengan inokulasi maupun di lapangan pada areal epidemi penyakit. Pengujian genetik dilakukan dilakukan melakukan keturunan, sedangkan produksi benih dilakukan melalui kebun benih. Pola perbanyakan tanaman hasil teknologi pemuliaan dalam rangkanproduksi masal benih unggul ditempuh melalui pembangunan kebun benih semai. Kontribusi benih unggul tahan penyakitkarat tumor adalah pengurangan resiko terhadap kerusakan tanaman oleh karat tumor sebesar 35%, memiliki riap 54 m3/ha/tahun. Untuk menjaga stabilitas produksi kayu bulat, estimasi benih dari kebun benih semai 300 g/pohon, maka dengan kerapatan tegakan 400 pohon/ha dan kemampuan berbuah 60% dari populasi tegakan jumlah produksi benih sekitar 72 kg/ha.
| 21231018027 | (042.5)630*165.44+443 LIL t | Perpustakaan "R.I. Ardi Koesoema" (Ref-3) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain