KOMODITAS HASIL HUTAN BUKAN KAYU YANG DIPERDAGANGKAN OLEH PENDUDUK
LOKAL DI PASAR TRADISIONAL MANOKWARI- PAPUA BARAT. Hutan tropis Papua memiliki
keanekaragaman komoditas hasil hutan bukan kayu yang tinggi dan mampu memenuhi berbagai kebutuhan hidup
masyarakat hutan. Komoditas tersebut cenderung diabaikan dan belum dikelola dengan baik dibandingkan hasil hutan kayu,
meskipun kenyataannya hasil hutan ikutan ini berperan penting bagi keberlangsungan hidup masyarakat hutan. Penelitian ini
melaporkan tentang keanekaragaman komoditas hasil hutan bukan kayu yang diperdagangkan di pasar tradisional di kota
Manokwari Papua Barat. Data dikumpulkan melalui wawancara terhadap 20 responden terpilih dan kunjungan lapangan,
dan diolah dengan analisis statistik sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 29 jenis komoditas diperjualbelikan
di pasar lokal Manokwari, dikelompokkan ke dalam sayuran (9 jenis), bahan pangan/makanan (4 jenis), buah-buahan
(7 jenis), tanaman herbal (4), alat kerajinan (3 produk), dan bahan adiktif (2 komoditas). Perdagangan komoditas ini
mampu memberikan pekerjaan alternatif dan penghasilan tambahan bagi masyarakat hutan, khususnya ibu rumah tangga
serta memenuhi kebutuhan konsumen akan produk-produk alami segar dan bernilai nutrisi tinggi. Pisang adalah komoditas
paling popular, dikonsumsi sebagai buah-buahan atau produk olahannya. Aci sagu (Metroxylon sago) adalah satu satu
komoditas berasal dari luar Manokwari, seperti dari Wondama, Biak, Jayapura dan Serui. Permintaan aci sagu mencapai puncaknya pada perayaan Natal dan Tahun Baru, dimana tradisi keluarga berkumpul dan merayakan kebersamaan dengan
menyajikan papeda. Mayoritas, komoditas tersebut adalah hasil memanen atau memetik, dan belum adanya usaha untuk
menanam atau membudidayakannnya. Untuk terus dapat memenuhi kebutuhan konsumen akan produk segar dan bernutrisi,
dan memberikan alternatif pekerjaan, serta penghasilan tambahan kepada masyarakat hutan, maka pemerintah daerah,
lembaga swadaya masyarakat, kalangan akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya perlu bersinergi meningkatkan nilai
tambah dan keberlanjutan produksi dari komoditas ini.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain