Nafkah keluarga petani misin dan berkelanjutan hutan jati kabupaen blora, jawa tengah (livelihood of poor farmers and teak forest sustinability in blora district, central jawa)
The use of land of teak forest in blora District is dominant. This study was conducted to determine the potential of teak forest as a source of livelihood for poor farmers and its sustainability. Data was collected in cross-sectional, initiated by observation in nature, focus group discussions, and indepth interviews with experts in the district, respondents in subdistrict, and village levels. The study locatedin the villages of Bleboh and Nglebur (Jiken subdistrict), Bodeh and Ngeliron (Randublatung subdistrict), Sumberejo and Ngiyono (Japah subdistrict) where data was collected in 2007 and 2008. The study used three interconnected analysis which included the potensial assesment of : (1) teak forest, (2) livelihood of poorfarmers, and (3) analisys of community based forest management(CBFM) perception. Assessment of dimensions, indicators, weights by researcher and expert discussions, and scores were base on the agreement built upon by researcher and respondents. The results showed that teak forests were highly potensial to be a sources of livelihood for poor farmers as indicated by mareket opportunities, teak quality, and employment. Livelihood of peasant in the teak forest were not yet optimum as reflected by ratio of livelihood source from teak forest and the benefit captured. Poor farmers only captured the small portion of benefit from activities negatively impacting perhutani as forest administrator, compared with those of brokers. Result of sustainability of CBFM perception analysis, showed that the final value was not yet maximum. This means that a holistic program of CBFM should be sought to catch up remaining maximum value = Penggunaan lahan untuk pohon jati di Kabupaten Blora cukup dominan. Untuk mengetahui potensi hutan jati sebagai sumber nafkah keluarga petani miskin dan keberlanjutanya, telah dilakukan kajian dan pengambilan data primer secara cross-sectional yang diawali dengan pengamatan secara alami, diskusi kelompok terfokus, wawancara mendalam dengan pakar dan responden tertentu di tingkat kabupatn, dan kecamatan, desa pada selang waktu 2007 dan 2008 di desa bleboh dan nglebur (kec.jiken), bodeh dan ngelinor (kec.randublatung), sumberejo dan ngiyono (kec.japah). kajian menggunakan tiga analisis yang saling terkait, meliputi : (1) potensi kayu jati di hutan jati, (2)nafkah keluarga petani miskin dan, (3) analisis persepsi pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM). Penilaian dimensi , indikaror, bobot dilakukan antara peneliti dengan pakar, dan skor kesepakatan peneliti dengan responden. Hasil kajian menunjukkan bahwa hutan jati sangat potensial berdasarkan indikator peluang pasar, kualitas kayu jati yang baik, dan fungsi penyerapan tenaga kerja. Nafkah keluarga petani miskin yang sifatnya tidak merugikan di hutan jati belum optimal, akibat perbedaan rasio sumber nafkah di banding pemanfaatannya. Petani miskin hanya menikmati keuntungan sangat kecil dari nafkah yang sifatnya merugikan Perhutani, sedangkan sebagian besar dinikmati oleh pedangang peratara. Analisis persepsi PHBM berdimensi berkelanjutan hutan jati dengan nilai akhir belu ideal, perlu mengejar ketertinggalan melalui program yang holistik pada PHBM yang berpihak pada masyarakat miskin.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain