Honeycombing and deformation of six wood speciesand their relationship with several physicalproperties(Pecah dalam dan deformasi pada enam jenis kayu serta hubungannyadengan beberapa sifat fisik)
Diasumsikan bahwa perbedaan kecenderungan setiap jenis kayu terhadap cacat pengeringan dipengaruhi oleh
beberapa sifat fisik kayu. Tulisan ini mempelajari terbentuknya pecah dalam dan deformasi pada beberapa jenis kayu
(trema, jati cepat tumbuh, bayur, jabon, angsana, dan lamtoro) serta menganalisa hubungannya dengan kadar air awal,
rasio penyusutan T/R, dan kerapatan. Metode Terazawa digunakan untuk meneliti cacat pengeringan selama
pengeringan suhu tinggi. Hasil studi menunjukkan bahwa kayu trema dan lamtoro mengalami tingkat pecah dalam
paling buruk (4-5/6). Kayu trema dan jati cepat tumbuh mengalami tingkat deformasi paling buruk (4-5/6). Analisis
regresi lebih lanjut menunjukkan bahwa model regresi berganda yang menggunakan kadar air awal, rasio T/R dan
kerapatan sebagai penduga memberikan dugaan tingkat nilai deformasi dan pecah dalam yang lebih baik dibandingkan
model regresi dengan penduga tunggal. Setiap model regresi berganda yang dibuat dapat menjelaskan sekitar 57,52% dan
39,46% variasi data deformasi dan pecah dalam yang terbentuk.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain